Tagged: public health indonesia Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Sharehouse Jakarta 7:43 am on May 5, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , , public health indonesia   

    Kalau kanker, tidak ada kata menunggu, sabar, dan takdir 

    Sel normal (A) saat rusak atau tua mati, tapi sel kanker yg error (B) mala membelah diri dan maju

    Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70)

    Sebagai seseorang WNA, saya sadar bahwa kesabaraan termasuk dalam sifat-sifat utama orang Indonesia (memang saya tinggal di Jakarta/Jawa tapi pernah juga ke pulau2  lain, orang tetap sabar).

    Nah, kali ini — dalam hal ini yg namanya kanker — apa kita tetap mesti sabar?  Apa ini hanya saat sabar — dan menyadari bawah Allah mengetahui segala sesuatau yang ada di langit dan bumi –atau saat bergerak, bantu, tanya, barang kali pindah rumah.

    (RS Dharmais juga menerima yg miskin/kurang mampu seperti mertua saya, namanya Pak Fadil (foto dibawa) lagi sakit kanker lidah stadium lanjut).

    Kenapa mesti cepat di obatin kanker? Karena kanker meruakan eror dalam sel-sel tubuh. Dari satu sel eror, mejadi banyak. Dari Wikipedia saya pinja: “Kecacatan sel, sebagai penyebab kanker, biasanya bisa memperkuat dirinya sendiri (self-amplifying), pada akhirnya akan berlipat ganda secara eksponensial.”

    Itu kuncinya. Eksponensial. Kalau orang memperkuat dirinya sendiri maka satu laki-laki dan satu perempuan menjadi 3 orang (atau empat kalau kembar). Tapi kalau sel kanker, 1 sel kanker menjadi 1,000,000,000 (satu miliar) sel kanker dalam berberapa minggu (tergantung tipe kankernya).

    Makanya, kalau pasien masih sehat atau masih mudah, harap kita menolak kata2 pihak rumah sakit yang berbau sabar dan takdir. Kalau penyakit lain, yg bukan kanker, tidak ada maslah. Mala masuk akal tunggu duluh. Tetapi kanker beda. Kanker tidak pakai kata tunggu,  sabar atau sopan.

    Ini saya juga pinjam dari Wikipedia: “Kebanyakan kanker menyebabkan kematian. Kanker adalah salah satu penyebab utama kematian di negara berkembang. Kebanyakan kanker dapat dirawat dan banyak disembuhkan, terutama bila perawatan dimulai sejak awal. Banyak bentuk kanker berhubungan dengan faktor lingkungan yang sebenarnya bisa dihindari. Merokok dapat menyebabkan banyak kanker daripada faktor lingkungan lainnya.”

    This slideshow requires JavaScript.

    Advertisements
     
  • Sharehouse Jakarta 1:20 pm on April 15, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , , careseeking indonesia, , , kesehatan, melek, public health indonesia   

    Boleh tidak saya ngobatin saudara saya yg kena kanker pakai SKTM di RS Dharmais? 

    Forum-forum Internet (termasuk Facebook dan blog) merupakan teknologi “kesehatan” super penting.  Menurut survey yg membuat rekan-rekan saya, dokter-dokter Indonesia jua sering memakai Internet  sebagai sumber informasi kesehatan utama.

    Gandaria City

    Maghrib @ GanCy

    Nah, saya buat blog ini untuk membagi pengalaman SKTM, Jamkesmas, Gakin, dll, dan minta maaf jika sebagian terbesar blog dari content-nya blum di ditranslate kpd bahasa Indonesia.

    —————

    Pas kemarin, hari Jumat, saya keluar dari kantor dan langsung ke rumah Mona, yg dekat Gandaria City. Kami berrencana main ke warung khas Madura asli yg punya Umi Neli di Pondok Pinang. Sekalian, kita ngobrol tentang sukses-sukses “get well soon” (cepat sembuh) yg telah mengalami Mona dalam sistem kesehatan umum Indonesia (termasuk SKTM, Gakin, Jamkesmas, dll).

    Tapi bukan justru kita berniat “happy-happy” atau merayakan sesuatu dgn aktivitas itu kilat ke PonPin cari sop kambing. Malah, kita saat itu hanya pikir ayah Mona — namanya Fadilla –  yg sejak 12 bulan tidak bisa makan apa saja — apa lagi sop dan sate — kecuali lewat selang.

    Rabu pagi saya ikut Mona dan adik2 dia kpd RS Dharmais untuk bicara sama Ibu Susan di bagian SKTM. Kemudian kita membuat rencana agar secepat mungkin bisa menemui semua persyaratan dan tata cara   yg berlaku berhadap penduduk Jakarta yg golongan miskin yg sakit. Kemudian itu — di hari kamis dan jumat — Mona melaksanakan rencananya. Dia bolak-balik berberapa kali dari RS Cipto (RSCM), RSUP Fatmawati dan RS  lain sampai akhirnya dapat mengurus semua kartu, surat, fotokopi, tanda tangan, hasil anataomi, patologi, CT scan, dan hasil pemeriksaan dan laboratorium lainnya.

    Dulu kita jarang beli sate, karena Pak. Fadil — sebagai tukang sate keliling yg banyak teman dan miliki juga tiga anak perempuan cantik  suka beli 15 ekor ayam sekalian. Tapi sejak lebih dari 12 bulan lalu, dia tidak pernah keluar dari rumah kecuali mau ke rumah sakit. Dia sudah lewat proses chemo/sinar tapi kanker kembali. Ada komplikasi juga, dari diabetes.  Dan sejak lebih dari satu bulan tidak bisa bicara gara2 tumor yg di lidah dia. Hanya tinggal doain bahwa cepat akan di terima ayah Mona– laki-laki yg berasal Bangkalan, Madura berumur 52 — sebagai pasien kanker di RS Dharmais.

    Mona juga jarang dagang sekarang. Karena urus pengobatan pasien di rumah sakit umum kaya “full-time job” yg suka menghabis semua waktu dia, sekalian waktu adik-adik dan ibu juga. Sudah lebih dari satu tahun keluarga Mona (10 orang di bawa atau atap) tidak ada penghasilan apapun (kecuali suami Mona yg kerja satpam). Jadi gampang dapat SKTM. Tapi cara di pakai juga penting.

    Nah, Mona (kakak ipar saya) makan sop benar2 luar bisa yg produk Ibu Nely (pas didepan mesjid Ja’ami di PonPin) sekalian ngshare cerita lucu ttng anak dia yg empat tahun yg kadang-kadang suka mengambil peran funny guy. Mungkin karena Fahri  banyak mederita sebagai bayi, sekarang dia sama sekali dia tidak takut apa2 dan/atau siapa2. Baru-baru ini dia ketemu sama dokter dia duluh di RS Fatmatwati. Ternyata Dokter Bambang masih ingat Fahri juga — anak yg lahir dengan usus  yg tidak jalan dan butuh tiga operasi sebelum umur dua.

    Sebelum Fahri bisa bicara yg lain dia sudah pintar berterimah kasih kpd dokter2 RSUP Fatmawati : ( sekalian bilang “sakit” dan “takut” ). Skrng si Fahri sehat banget, banyak pacar — kok ? –  dan mau menjadi pilot (atau polisi). Gara2 itu saya suka sebutkan kesembuhan Fahri sukses SKTM Mona yg pertama.

    Whassup?

    Have a niece day

    Mona senyum saat pikir perjalanan panjang  “Get Well Soon” — yg mulai waktu Fahri lahir dan belum kelihatanya akhirnya juga.

    “Tadi pihak Puskesmas yg minta bantuan dari saya — terbalik khan — karena mereka kurang mengerti onkologi, patologi dan soal2 gitu,” kata ipar saya orang sangat ramah dan optimis.

    Mungkin beda dari adik2 dia, ibu mudah ini yg berhobi nyanyi musik dangdut merupakan perempuan “gedung-pungan”  atau kota/kampung asli. Kenapa?  Karena dia lancar bahasa Madura sekalian Indonesia.  Dan dia merasa sama aja betah saat ngcater makanan untuk pesta mewa orang asing di Kemang maupun melayani kebutuan satu-dua ekor sapi  mewah yg biasanya suka menginap tiap malam dalam dapur-dapur orang yg di desa kecil daerah Bangkalan, Java Timur.

    Tapi sukses-sukses kemarin — apa ada hubungan atau tidak dengan kasus Pak Fadil yg sampai sekarang belum ada kabar bagus sama sekali?  Selain “e-pasien” Fahri, Mona pernah bantu ibu dia sendiri berhadap keputusan sedikit bertakutan ttng tindakan kelenjar leher. Prosedur itu ahirnya di lakukan Dr Enos (RS Fatmawati juga). Hari ini nenek Fahri 100% sehat.

    Banyak pasien lain yg Mona pernah bantu juga — biasanya hanya dgn cara kasih semangat , tapi kadang2 dng cara menjelaskan proses urus surat seperti SKTM . Pasien2 itu termasuk saudara Mona sendiri (adik Mona kena TBC dan suami kena bisul serem ) dan tetangga/bukan saudara.

    Apakah bisa pakai SKTM di Dharmais? Tentu bisa. Dibawa hukum Indonesia pasien yg tidak mampu dan/atau miskin tetap berhak cari bantuan medis.  Tapi mencari bantuan itu juga memerlukan uang, kerja keras, dan kesabaraanya.

    Umi Neli's Sate Pondok Pinang, Jakarta

    Umi Neli's Sate, Pondok Pinang (in front of Mesjid Jami)

    Kenapa? Karena saat pasien SKTM insya Allah sembuh dan mau pulang, keluwarga pasiennya akan menerima tagihan. (Dgn SKTM pembiaya bisa jadi 15-20% dari jumah asli dalam pengalaman kita.) Tapi, kalau tidak bayar, tidak bisa pulang juga.

    Selain itu, ongkos bolak-balik cari surat — itu pakai uang. Ongkos pulang pergi antar pasien atau cari obat di apotik untuk pasien atau kunjungi kpd pasien tiap hari di RS — pakai uang juga.

    Nah, siapa akan jaga anak kecil di rumah jika mama mau lari2 terus tiap hari urus masalah RS? Ternyata mama tidak bisa dagang kalau  dia tiap hari ke RS.  Jadi disitu ada gejalah/masalah yg hanya bisa obatin dgn uang.

    Demikian, jawapan saya untuk sementara  — dan saya minta ma’af sebelumnya kalau tidak bagus — “ya” bisa obatin saudara anda dgn SKTM di RS Dharmais.

    Tapi  selain surat SKTM itu — dan uang yg cukup — butuh juga informasi seluas mungkni, iman dan percayaaan diri, koperasi dari semua pihak keluarga, kesabaraan dan tidak-kecapaian. Walaupun  proses urus surat dan izin itu kadang-kadang repot, kalau kami bisa pasti anda bisa.

     
  • Sharehouse Jakarta 3:53 pm on April 7, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , , , public health indonesia, silver jews, think global act yokel, urban anthropology   

    Amerik: Thank you for smoking 

    Alfred W. McCoy’s seminal work The Politics of Heroin in Southeast Asia says that “sanctimonious empire builders subjected millions of natives to the curse of opium addiction, generating enormous revenues for colonial development, and providing profit  for European stockholders (58).”

    So the recent WTO ruling may belong to the old story of business and government working together to market drugs. The WTO ruled — in essence — that since menthol in the USA is — by definition — “cool,” the U.S. can’t ban other ciggy flavors, like cloves. This came very much as a surprise to lawmakers of every stripe. Even Phillip Morris (which is heavily invested in Indonesia, via its Sampoerna brand) had worked out a way to get behind the failed no-flavored-cigarettes (except menthol) campaign.

    So what we’ve got is Indonesia selling cherry-flavored to American youngsters (who might not be into ol’ Joe Camel) and the U.S. — totally steamed — desperately searches for the trade loophole and discovers that the tobacco trade — and all the-double think that’s kept it smoldering so chilly all this time  — isn’t a loophole. It’s more like the way countries (and major guerrilla movements) have always done business. It’s how they finance the military, build hospitals, etc.

    As McCoy tells it:

    “[I]n the 1500s European merchants introduced opium smoking; in the 1700s the British East India Company became Asia’s first large-scale opium smuggler, forcibly supplying an unwilling China; and in the 1800s every European colony [including Batavia] had its official opium dens (59).

    This is a victory for the Indonesia-based manufacturers of  cloves cigarettes (we call them kretek), including Phillip Morris and the powerful tobacco families.  But it’s hardly a victory for Indonesia.  Indonesia — like the U.S. — simply has nothing to celebrate as regards its drug policy, particularly with regard to tobacco. Here in Jakarta, even if three doctors have said they think you have oral cancer, they’ll easily keep you waiting a couple months to get a biopsy within the state medical system. Meanwhile, zero attempt is made to keep kids from buying cigarettes (quite the opposite).

    At the same time, selling drugs is easier said than done, and eventually accomplished through a ruthless amalgam of domestic politics, trade diplomacy, and either military or mafia force. So maybe it’s good this is a court decision rather than a military coup or a purchase order for helicopters.

    But the take-home for Unc. Sam is that, if you can’t even prevent ruthless foreign profiteers from legally  selling candy ciggies to your kids, then just imagine — ’cause most of the time they’re not even going to bother to sue.

    Most favored flavor status for menthol?   I guess the WTO agreed with the kretek makers — it just sounds ridiculous. Like calling the other guy’s fag a dirty weed without hurting the fresh, flavorful image  of your own menthol-mix marvel.  But for backers of commodities like cocaine and cannabis,  even a drug war or two may go down as the normal costs of doing business.

    If I’m not mistaken, both cloves and menthol leverage eugenol as the key happy ingredient. Who cares, however, because the point is that kids are always going to hit exotic new substances, whatever they may be. If the local stash in Cincy runs low, they’ll order more from Indonesia.  So the focus on tobacco, which tons of smokers admit has a miserable cost/benefit ratio,  is unjustified.  Alcohol ( about as anti-social a drug as you can find) may also get much more attention that it deserves.

    Kids (and adults) aren’t really as stupid as people think. The problem is they tend to be misled by the semi-well-intentioned regulation efforts of government/business. If you chose your drugs based on U.S. law, then you’d be smoking and drinking — both extremely legal  in the U.S. –and you’d be 15 times more likely to get oral cancer (a new risk factor we just learned about and you should quit at least one, today).

    Meanwhile, having gotten into the business of helping market cigarettes, the the U.S. government ought to be wondering, just about now, what the hell it’s doing. Cigarettes sell fine, no need to mess with the flavors.  And it’s too complicated — work for chemists, not politicians.

    It just seems that nothing’s working and a new paradigm is needed. Both alcohol and tobacco should be forced to compete on a fair playing field with other roots, bark, berries, brews and every other type of thing that people drink, snort, chew or otherwise ingest. Because honestly, who would smoke a bunch of unknown stuff rolled up in a paper tube with a silly flavor? Why?

    Would alcohol and tobacco really be able to compete for people’s recreational drug dollar it it weren’t for the legal cachet? Pride in the quality of one’s national tobacco seems to me so old school. There are a lot of safer drugs.

    What happened to e-ciggy? I think you’ll find it’s safe enough. Problem is, it doesn’t help move all this tobacco that’s piling up in the warehouses of Java.

     
  • Sharehouse Jakarta 6:19 pm on June 6, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , epatient jakarta, fadil mona, , kanker jakarta, , pink floyd, public health indonesia   

    Update: Pak Fadil is feeling the effects of the… 

    Pak Fadil is feeling the effects of the radiation. The equipment is aimed to concentrate as much of the energy as possible at the point of the tumor (tongue) with as little as possible hitting other tissues. But those tissues include some sensitive ones in the mouth and neck area. So it’s common to a lot of sores. And the teeth take a big hit. This can interfere with radiation treatment, which was the case today.

    But the patient now has a hostel near the hospital, and a nice one. We’ll go with him to Cipto tomorrow to talk to doctors. I’d like to know why he doesn’t have any painkiller stronger than Ultram yet.

    Pak Fadil baru kena efek dari sinar: luka2 di mulut. Hari ini dia tidak bisa ikut jadwal sinar. Besok kita ke Cipto lagi. Belum di kasih obat anti-nyeri. Tapi, dia sudah ada kost bagus dekat Cipto.

     
  • Sharehouse Jakarta 5:11 pm on May 4, 2011 Permalink | Reply
    Tags: cancer hospitals bali, cancer hospitals indonesia, , , , public health indonesia, tobacco public health   

    Update: headed to hospital tomorrow Pak Fadil begins chemo… 

    headed to hospital tomorrow. Pak Fadil begins chemo. MAU KE RUMAH SAKIT BESOK; PAK FADIL MULAI PENGOBATAN CHEMO

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel