Boleh tidak saya ngobatin saudara saya yg kena kanker pakai SKTM di RS Dharmais?

Forum-forum Internet (termasuk Facebook dan blog) merupakan teknologi “kesehatan” super penting.  Menurut survey yg membuat rekan-rekan saya, dokter-dokter Indonesia jua sering memakai Internet  sebagai sumber informasi kesehatan utama.

Gandaria City

Maghrib @ GanCy

Nah, saya buat blog ini untuk membagi pengalaman SKTM, Jamkesmas, Gakin, dll, dan minta maaf jika sebagian terbesar blog dari content-nya blum di ditranslate kpd bahasa Indonesia.

—————

Pas kemarin, hari Jumat, saya keluar dari kantor dan langsung ke rumah Mona, yg dekat Gandaria City. Kami berrencana main ke warung khas Madura asli yg punya Umi Neli di Pondok Pinang. Sekalian, kita ngobrol tentang sukses-sukses “get well soon” (cepat sembuh) yg telah mengalami Mona dalam sistem kesehatan umum Indonesia (termasuk SKTM, Gakin, Jamkesmas, dll).

Tapi bukan justru kita berniat “happy-happy” atau merayakan sesuatu dgn aktivitas itu kilat ke PonPin cari sop kambing. Malah, kita saat itu hanya pikir ayah Mona — namanya Fadilla –  yg sejak 12 bulan tidak bisa makan apa saja — apa lagi sop dan sate — kecuali lewat selang.

Rabu pagi saya ikut Mona dan adik2 dia kpd RS Dharmais untuk bicara sama Ibu Susan di bagian SKTM. Kemudian kita membuat rencana agar secepat mungkin bisa menemui semua persyaratan dan tata cara   yg berlaku berhadap penduduk Jakarta yg golongan miskin yg sakit. Kemudian itu — di hari kamis dan jumat — Mona melaksanakan rencananya. Dia bolak-balik berberapa kali dari RS Cipto (RSCM), RSUP Fatmawati dan RS  lain sampai akhirnya dapat mengurus semua kartu, surat, fotokopi, tanda tangan, hasil anataomi, patologi, CT scan, dan hasil pemeriksaan dan laboratorium lainnya.

Dulu kita jarang beli sate, karena Pak. Fadil — sebagai tukang sate keliling yg banyak teman dan miliki juga tiga anak perempuan cantik  suka beli 15 ekor ayam sekalian. Tapi sejak lebih dari 12 bulan lalu, dia tidak pernah keluar dari rumah kecuali mau ke rumah sakit. Dia sudah lewat proses chemo/sinar tapi kanker kembali. Ada komplikasi juga, dari diabetes.  Dan sejak lebih dari satu bulan tidak bisa bicara gara2 tumor yg di lidah dia. Hanya tinggal doain bahwa cepat akan di terima ayah Mona– laki-laki yg berasal Bangkalan, Madura berumur 52 — sebagai pasien kanker di RS Dharmais.

Mona juga jarang dagang sekarang. Karena urus pengobatan pasien di rumah sakit umum kaya “full-time job” yg suka menghabis semua waktu dia, sekalian waktu adik-adik dan ibu juga. Sudah lebih dari satu tahun keluarga Mona (10 orang di bawa atau atap) tidak ada penghasilan apapun (kecuali suami Mona yg kerja satpam). Jadi gampang dapat SKTM. Tapi cara di pakai juga penting.

Nah, Mona (kakak ipar saya) makan sop benar2 luar bisa yg produk Ibu Nely (pas didepan mesjid Ja’ami di PonPin) sekalian ngshare cerita lucu ttng anak dia yg empat tahun yg kadang-kadang suka mengambil peran funny guy. Mungkin karena Fahri  banyak mederita sebagai bayi, sekarang dia sama sekali dia tidak takut apa2 dan/atau siapa2. Baru-baru ini dia ketemu sama dokter dia duluh di RS Fatmatwati. Ternyata Dokter Bambang masih ingat Fahri juga — anak yg lahir dengan usus  yg tidak jalan dan butuh tiga operasi sebelum umur dua.

Sebelum Fahri bisa bicara yg lain dia sudah pintar berterimah kasih kpd dokter2 RSUP Fatmawati : ( sekalian bilang “sakit” dan “takut” ). Skrng si Fahri sehat banget, banyak pacar — kok ? –  dan mau menjadi pilot (atau polisi). Gara2 itu saya suka sebutkan kesembuhan Fahri sukses SKTM Mona yg pertama.

Whassup?

Have a niece day

Mona senyum saat pikir perjalanan panjang  “Get Well Soon” — yg mulai waktu Fahri lahir dan belum kelihatanya akhirnya juga.

“Tadi pihak Puskesmas yg minta bantuan dari saya — terbalik khan — karena mereka kurang mengerti onkologi, patologi dan soal2 gitu,” kata ipar saya orang sangat ramah dan optimis.

Mungkin beda dari adik2 dia, ibu mudah ini yg berhobi nyanyi musik dangdut merupakan perempuan “gedung-pungan”  atau kota/kampung asli. Kenapa?  Karena dia lancar bahasa Madura sekalian Indonesia.  Dan dia merasa sama aja betah saat ngcater makanan untuk pesta mewa orang asing di Kemang maupun melayani kebutuan satu-dua ekor sapi  mewah yg biasanya suka menginap tiap malam dalam dapur-dapur orang yg di desa kecil daerah Bangkalan, Java Timur.

Tapi sukses-sukses kemarin — apa ada hubungan atau tidak dengan kasus Pak Fadil yg sampai sekarang belum ada kabar bagus sama sekali?  Selain “e-pasien” Fahri, Mona pernah bantu ibu dia sendiri berhadap keputusan sedikit bertakutan ttng tindakan kelenjar leher. Prosedur itu ahirnya di lakukan Dr Enos (RS Fatmawati juga). Hari ini nenek Fahri 100% sehat.

Banyak pasien lain yg Mona pernah bantu juga — biasanya hanya dgn cara kasih semangat , tapi kadang2 dng cara menjelaskan proses urus surat seperti SKTM . Pasien2 itu termasuk saudara Mona sendiri (adik Mona kena TBC dan suami kena bisul serem ) dan tetangga/bukan saudara.

Apakah bisa pakai SKTM di Dharmais? Tentu bisa. Dibawa hukum Indonesia pasien yg tidak mampu dan/atau miskin tetap berhak cari bantuan medis.  Tapi mencari bantuan itu juga memerlukan uang, kerja keras, dan kesabaraanya.

Umi Neli's Sate Pondok Pinang, Jakarta

Umi Neli's Sate, Pondok Pinang (in front of Mesjid Jami)

Kenapa? Karena saat pasien SKTM insya Allah sembuh dan mau pulang, keluwarga pasiennya akan menerima tagihan. (Dgn SKTM pembiaya bisa jadi 15-20% dari jumah asli dalam pengalaman kita.) Tapi, kalau tidak bayar, tidak bisa pulang juga.

Selain itu, ongkos bolak-balik cari surat — itu pakai uang. Ongkos pulang pergi antar pasien atau cari obat di apotik untuk pasien atau kunjungi kpd pasien tiap hari di RS — pakai uang juga.

Nah, siapa akan jaga anak kecil di rumah jika mama mau lari2 terus tiap hari urus masalah RS? Ternyata mama tidak bisa dagang kalau  dia tiap hari ke RS.  Jadi disitu ada gejalah/masalah yg hanya bisa obatin dgn uang.

Demikian, jawapan saya untuk sementara  — dan saya minta ma’af sebelumnya kalau tidak bagus — “ya” bisa obatin saudara anda dgn SKTM di RS Dharmais.

Tapi  selain surat SKTM itu — dan uang yg cukup — butuh juga informasi seluas mungkni, iman dan percayaaan diri, koperasi dari semua pihak keluarga, kesabaraan dan tidak-kecapaian. Walaupun  proses urus surat dan izin itu kadang-kadang repot, kalau kami bisa pasti anda bisa.